Kamis, 13 September 2018

Cuap-Cuap Pengalaman Ala Saya


Beberapa Inspirasi Berjualan Sembari Kuliah
(bukan fiksi, diangkat dari kisah nyata)

Siang ini aku baru saja membaca sebuah postingan di facebook tentang seorang mahasiswi UIN Sunan Ampel yang berasal dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Tulungagung. Fyi, itu merupakan kabupaten tempat aku berasal. Awalnya mahasiswi tersebut tidak bisa melanjutkan kuliah karena keterbatasan ekonomi, padahal dia terlanjur diterima lewat jalur SPAN PTKIN. Kemudian dia berusaha mencari cara agar tetap bisa kuliah tanpa menggantungkan pada orang tuanya. Dia berinisiatif untuk menghubungi seseorang yang menginspirasinya, karena sama-sama dari keluarga miskin dan bisa kuliah sampai S3. Setelah bertemu, akhirnya mahasiswi tersebut mendapatkan jalan keluar agar dia bisa melanjutkan kuliah. Sekarang si mahasiswi tersebut resmi menjalani perkuliahan di UIN Sunan Ampel dan bahkan mondok juga di salah satu pesantren di Surabaya.
Di komentar saya spontan menulis. Saya juga berasal dari pedalaman Kabupaten Tulungagung, tepatnya Kecamatan Pucanglaban (bisa jadi desa saya lebih terpencil dari desa si mahasiswi tersebut). Hal yang saya lakukan untuk bertahan hidup semasa kuliah adalah dengan jualan roti bakar dan gorengan di tingkat satu, mengajar bimbingan belajar mulai tingkat dua, serta mencari kosan yang murah. Alhamdulillah saya dapat menjalani semua itu dengan baik. Semoga dek mahasiswi juga tidak pantang menyerah dalam keadaan apapun.
Beberapa jam setelah menulis komentar tersebut, saya jadi terfikir, mengapa saya tidak membuat tulisan juga mengenai apa yang saya lakukan untuk bertahan hidup saat kuliah. Selain saya dapat menceritakan pengalaman hidup saya, siapa tau dengan menceritakannya sedikit lebih detail saya dapat berbagi. Dalam tulisan kali ini saya mulai dari berjualan roti bakar dan gorengan terlebih dahulu.
1.    Jualan Roti Bakar
Awalnya saya berjualan roti bakar khusus rasa mangga. Inspirasi tersebut muncul ketika hari minggu, saya sedang main ke kosan pacar saya di daerah Ambarbinangun, Jogja. Di depan kosannya, ada sebuah pohon mangga yang berbuah lumayan banyak. Saya memanjat pohon mangga itu dan memetik beberapa buah. Ternyata eh ternyata, rasa buahnya sangat masam. Padahal kami sudah mencocolkan potongan mangganya dengan gula. Akhirnya saya terpikirkan, mengapa tidak dibuat selai. Berbekal reskuker besar pinjaman dari tetangga kamar kos. Kami membuat selai mangga.
Setelah jadi dalam bentuk selai, rasanya aneh sekali bila dimakan langsung. Entah mengapa tiba-tiba pacarku terpikirkan untuk membuat roti bakar. Berbekal panggangan roti elektrik milik mamanya. Roti bakar selai manggapun jadi. Hari minggu itu juga hari pertama kami memproduksi roti bakar selai mangga dengan merk DNA. Saya mengeprint label kecil-kecil untuk dimasukkan dalam bungkus roti tersebut. Produk selai mangga hanya bertahan sebulan sampai selai habis, setelah itu teman-teman saya banyak merekomendasikan rasa lain seperti rasa coklat, dan nanas. Pernah juga membuat selai sirsak namun mudah basi dan hasil selainya tidak sesuai dengan ekspektasi.
Roti bakar saya jual di beberapa tempat yaitu, dikelas saat kuliah (teman-teman saya sendiri), dititipkan di kantin jujur milik FUSI (ormawa bidang keagamaan, kantinnya berada di selasar masjid namun kelemahannya karena kajur sering ada yang tidak bayar), dan yang terakhir adalah di meja ruang tamu kos. Dimeja ruang tamu kos ini stock yang saya alokasikan hanya sedikit. Bisnis roti bakar ini hanya berjalan selama kurang lebih 3-4 bulan saja.
Untuk membuat roti bakar selai mangga, bahan dan cara yang digunakan ala saya dulu sangat simpel. Pertama persiapkan bahan baku yakni air, gula 1 kg, 5-6 buah mangga, dan garam. Gula bisa ditambah bila ingin rasa yang lebih manis ya. Untuk alatnya, siapkan reskuker, pisau untuk memotong dan sendok pengaduk. Usahakan sendok pengaduk terbuat dari kayu ya, biar tidak meleleh saat digunakan untuk mengaduk adonan bersuhu panas dalam jangka waktu lama. Adukan kayu tersebut bisa menggunakan spatula kayu.
   Pertama-tama kupas buah mangga. Cuci dengan air bersih dan potong kecil-kecil (bebas ya, boleh dipotong dadu atau korek api yang jelas kecil-kecil agar ketika direbus lebih mudah lunak dan hancur. Bila ada blender bisa juga dihancurkan dengan blender agar lebih cepat). Setelah itu siapkan air di reskuker, dikira-kira saja ya sekucupnya mungkin sekitar 1 – 1,5 liter air. Bila airnya terlalu banyak tidak masalah karena akan diuapkan, namun membuat proses pembuatan selainya lebih lama. Masak air, mangga, gula dan garam secukupnya di reskuker. Tutup reskuker dan setel tombol cooking. Tunggu sampai berpindah ke warm atau air telah mendidih.
Setelah air mendidih, aduk terus sembari tekan-tekan buah mangga yang belum hancur dengan spatula kayu. Aduk terus menerus sampai kadar air menurun dan adonan menjadi kental. Jangan lupa dicicipi untuk koreksi rasa. Proses pengadukan ini membutuhkan waktu sangat lama teman, kira-kira dua sampai tiga jam bergantung pada banyaknya kadar air pada proses awal. Bila adonan telah mengental atau menjadi selai, segera matikan resuker. Selai bisa dipindah ke wadah lain yang lebih lebar atau tetap di panci reskuker untuk didinginkan. Mudah bukan.
Langkah selanjutnya adalah membuat roti bakar. Pada proses ini bahan yang digunakan adalah roti tawar (saya dulu menggunakan tiga merk ini, lingga, borobudur atau prambanan yang berkulit ya bukan yang putih karena lebih murah), selai buah, meses coklat untuk rasa coklat, dan mentega (saya dulu konsisten menggunakan merk forvita yang murah). Alat yang digunakan adalah sendok dan mesin pemanggang roti elektrik, mesin ini bisa disubtitusi menggunakan teflon ya. Ambil dua helai roti, oles tipis-tipis bagian dalam roti dan luar dengan mentega, kemudian beri selai/meses di salah satu bagian dan tumpuk. Masukkan ke dalam mesin pemanggang. Tunggu 3-5 menit jadi deh.
Bila anda menggunakan mesin pemanggang roti, roti akan berbentuk kotak namun tengahnya terdapat bekas press mesin. Bekas press inilah yang membagi roti menjadi dua bagian. Saya dulu menjualnya hanya separuh bagian roti dengan harga jual Rp. 1000. Alat yang saya gunakan untuk memotong roti bakarnya adalah gunting (sampai sekarang tahun 2018 gunting itu masih ada padahal saya jualan pada semester ganjil tahun 2014, wkwkwk). Untuk packingnya, saya membungkusnya dengan plastik ukuran ½ kg. Cara packingnya, masukkan roti bakar ke dalam plastik, masukkan label merk roti, Kemudian rekatkan plastik dengan cara membakarnya. Gunting beberapa cm dari bekas bakaran. Nah, satu lembar plastik bisa digunakan untuk packing 2 biji roti ya. Jangan lupa pastikan saat packing tidak terjadi kebocoran yang bisa membuat semut masuk ke dalam plastik atau membuat roti jadi mudah basi.
Nah dari deskripsi diatas pasti ada beberapa pertanyaan. Pertama mengapa saya menggunakan reskuker dan bukan kompor. Saat itu memang di kos ada kompor, namun menggunakan gas butana. Meskipun gas butana juga awet, tapi mahal karena isi ulang setiap kalengnya seharga Rp. 4000 (tahun 2014). Karena di kos tidak perlu membayar listrik tambahan untuk alat elektronik, maka kami memutuskan menggunakan reskuker karena lebih murah (sekalian bayar sama kosannya wkwkwk). Kedua mengapa saya menggunakan mesin pemanggang roti bukan teflon. Menggunakan teflon dengan energi dari kompor (gas) memang lebih mudah ditemui. Namun saat itu, kami memang ada dan tersedia alat tersebut. Hasil roti bakar bila menggunakan mesin pemanggang dan teflon juga berbeda. Mesin pemanggang akan menghasilkan roti bakar lebih kering dan pada saat masih hangat akan bertekstur sangat renyah, sementara itu, menggunakan teflon lebih sulit mengontrol api kompor agar stabil supaya tidak membuat telfon gosong, serta hasilnya lebih basah. Sehingga menurut hemat saya, produk yang dihasilkan melalui mesin pemanggang akan lebih awet dibandingkan dengan menggunakan teflon.
Dahulu setiap kali produksi, saya dapat menghabiskan 2 bungkus roti. Kuantitas tersebut dapat habis untuk satu atau dua hari. Dari sekali saya produksi, saya bisa mendapatkan omset Rp. 40.000 dan untung kira-kira Rp. 20.000 (baru sadar untung saya 50%, wkwkwk). Untuk sekarang, saya kurang tau, karena harga bahan baku roti sendiri telah naik, tahun 2014 satu bungkus roti tawar berkulit merek lingga, borobudur dan prambanan adalah Rp. 7.000 –Rp. 8.000 dengan isi sekitar 19-20 lapis roti. Tahun 2018, harga satu bungkus roti tersebut berkisar Rp. 8.000 – Rp. 9.500 dengan isi sekitar 18 lapis roti. Sehingga apabila anda berminat berjualan roti bakar seperti saya, perhitungan harga jualnya bisa disesuaikan dengan kondisi saat ini.  
2.    Jualan Gorengan
Pasti ada diantara kalian yang setiap mengadakan event di kampus mencari dana dengan berjualan. Di kampus saya, UNS Solo disebut dengan danus (dana usaha). Di jurusan dan fakultas, seringnya danus berupa gorengan yang diambil dari suplier tukang buat roti dan jajanan pasar yang banyak ditemukan di pasar-pasar. Dari situlah saya belanja untuk berjualan gorengan. Disini saya hanya menjualkan dan mengambil untung Rp. 500 – Rp. 700. Beberapa macam gorengan yang pernah saya jual adalah tahu ayam, tahu bakso dan pisang coklat. Untuk tahu ayam dan pisang coklat saya mengambil dari suplier di Pasar Panggung, sedangkan tahu bakso saya mengambil disebelahnya. Untuk jenis gorengan dan jajanan pasar lainnya, bagi mahasiswa UNS saya merekomendasikan kulakan di Pasar Jebres karena variannya lebih bermacam-macam. Keuntungan dari jualan gorengan adalah tidak perlu repot-repot membuatnya karena hanya menjualkan saja. Namun apabila tidak habis pada saat itu juga, gorengan tidak dapat dijual kembali esoknya. Sehingga apabila berjualan gorengan saya tidak stock terlalu banyak.   
3.    Jualan Pisang Coklat (Piscok)
Yang ketiga, saya pernah jualan pisang coklat. Sesi jualan pisang coklat ini sangat istimewa karena saya dan pacar saya (kami) memproduksi sendiri pisang coklat ini. Bila sebelumnya hanya bertahan beberapa bulan, bisnis piscok ini mampu bertahan sampai 1 semester sampai akhirnya kami harus berhenti karena suatu persoalan yang diakibatkan oleh kebodohan kami (terutama saya), sehingga kami merasa untuk membangun bisnis kembali, selain perlu modal niat, tekad, kemampuan, koneksi dan kreativitas, juga memerlukan modal berupa kemapanan finansial. Kemapanan finansial (istilah saya sendiri) itu bagaimana sih? Apakah berarti harus punya modal besar untuk membuat suatu usaha, atau seperti apa. Nah untuk sharing terkait jualan pisang coklat dan kemapanan finansial akan saya bahas di artikel tersendiri pada postingan selanjutnya.

Nah itulah ketiga macam produk yang pernah saya jual sembari kuliah. Saya merasakan banyak manfaat dari proses tersebut, mulai dari bantuan finansial dari keuntungan yang saya dapatkan, tes mental, kreativitas dan kemampuan untuk melihat peluang. Dari proses tersebut saya juga banyak belajar. Sayangnya saya tidak memiliki dokumentasi produk-produk tersebut karena sudah berganti laptop, berganti hp dan berganti flashdisk. Nah apabila suatu hari nanti saya nemu diantara file-file lama saya, saya akan perbaharui postingan ini dan menguploadnya. Semoga postingan kali ini bermanfaat untuk pembaca semuanya. Apabila ada kritik dan saran silahkan langsung alamatkan pada ayundav3@gmail.com. Kritik dan saran anda yang membangun senantiasa saya nantikan dengan senang hati.