Beberapa Inspirasi Berjualan Sembari Kuliah
(bukan fiksi, diangkat dari kisah nyata)
Siang ini aku baru saja membaca sebuah
postingan di facebook tentang seorang mahasiswi UIN Sunan Ampel yang berasal
dari sebuah desa terpencil di Kabupaten Tulungagung. Fyi, itu merupakan
kabupaten tempat aku berasal. Awalnya mahasiswi tersebut tidak bisa melanjutkan
kuliah karena keterbatasan ekonomi, padahal dia terlanjur diterima lewat jalur
SPAN PTKIN. Kemudian dia berusaha mencari cara agar tetap bisa kuliah tanpa menggantungkan
pada orang tuanya. Dia berinisiatif untuk menghubungi seseorang yang
menginspirasinya, karena sama-sama dari keluarga miskin dan bisa kuliah sampai
S3. Setelah bertemu, akhirnya mahasiswi tersebut mendapatkan jalan keluar agar
dia bisa melanjutkan kuliah. Sekarang si mahasiswi tersebut resmi menjalani
perkuliahan di UIN Sunan Ampel dan bahkan mondok juga di salah satu pesantren
di Surabaya.
Di komentar saya spontan menulis. Saya
juga berasal dari pedalaman Kabupaten Tulungagung, tepatnya Kecamatan
Pucanglaban (bisa jadi desa saya lebih terpencil dari desa si mahasiswi
tersebut). Hal yang saya lakukan untuk bertahan hidup semasa kuliah adalah
dengan jualan roti bakar dan gorengan di tingkat satu, mengajar bimbingan
belajar mulai tingkat dua, serta mencari kosan yang murah. Alhamdulillah saya
dapat menjalani semua itu dengan baik. Semoga dek mahasiswi juga tidak pantang
menyerah dalam keadaan apapun.
Beberapa jam setelah menulis komentar
tersebut, saya jadi terfikir, mengapa saya tidak membuat tulisan juga mengenai
apa yang saya lakukan untuk bertahan hidup saat kuliah. Selain saya dapat
menceritakan pengalaman hidup saya, siapa tau dengan menceritakannya sedikit
lebih detail saya dapat berbagi. Dalam tulisan kali ini saya mulai dari
berjualan roti bakar dan gorengan terlebih dahulu.
1.
Jualan
Roti Bakar
Awalnya saya berjualan roti bakar
khusus rasa mangga. Inspirasi tersebut muncul ketika hari minggu, saya sedang
main ke kosan pacar saya di daerah Ambarbinangun, Jogja. Di depan kosannya, ada
sebuah pohon mangga yang berbuah lumayan banyak. Saya memanjat pohon mangga itu
dan memetik beberapa buah. Ternyata eh ternyata, rasa buahnya sangat masam.
Padahal kami sudah mencocolkan potongan mangganya dengan gula. Akhirnya saya
terpikirkan, mengapa tidak dibuat selai. Berbekal reskuker besar pinjaman dari
tetangga kamar kos. Kami membuat selai mangga.
Setelah jadi dalam bentuk selai,
rasanya aneh sekali bila dimakan langsung. Entah mengapa tiba-tiba pacarku
terpikirkan untuk membuat roti bakar. Berbekal panggangan roti elektrik milik
mamanya. Roti bakar selai manggapun jadi. Hari minggu itu juga hari pertama
kami memproduksi roti bakar selai mangga dengan merk DNA. Saya mengeprint label
kecil-kecil untuk dimasukkan dalam bungkus roti tersebut. Produk selai mangga
hanya bertahan sebulan sampai selai habis, setelah itu teman-teman saya banyak
merekomendasikan rasa lain seperti rasa coklat, dan nanas. Pernah juga membuat
selai sirsak namun mudah basi dan hasil selainya tidak sesuai dengan
ekspektasi.
Roti bakar saya jual di beberapa
tempat yaitu, dikelas saat kuliah (teman-teman saya sendiri), dititipkan di
kantin jujur milik FUSI (ormawa bidang keagamaan, kantinnya berada di selasar
masjid namun kelemahannya karena kajur sering ada yang tidak bayar), dan yang
terakhir adalah di meja ruang tamu kos. Dimeja ruang tamu kos ini stock yang
saya alokasikan hanya sedikit. Bisnis roti bakar ini hanya berjalan selama
kurang lebih 3-4 bulan saja.
Untuk membuat roti bakar selai mangga,
bahan dan cara yang digunakan ala saya dulu sangat simpel. Pertama persiapkan
bahan baku yakni air, gula 1 kg, 5-6 buah mangga, dan garam. Gula bisa ditambah
bila ingin rasa yang lebih manis ya. Untuk alatnya, siapkan reskuker, pisau
untuk memotong dan sendok pengaduk. Usahakan sendok pengaduk terbuat dari kayu
ya, biar tidak meleleh saat digunakan untuk mengaduk adonan bersuhu panas dalam
jangka waktu lama. Adukan kayu tersebut bisa menggunakan spatula kayu.
Pertama-tama
kupas buah mangga. Cuci dengan air bersih dan potong kecil-kecil (bebas ya,
boleh dipotong dadu atau korek api yang jelas kecil-kecil agar ketika direbus
lebih mudah lunak dan hancur. Bila ada blender bisa juga dihancurkan dengan
blender agar lebih cepat). Setelah itu siapkan air di reskuker, dikira-kira
saja ya sekucupnya mungkin sekitar 1 – 1,5 liter air. Bila airnya terlalu
banyak tidak masalah karena akan diuapkan, namun membuat proses pembuatan
selainya lebih lama. Masak air, mangga, gula dan garam secukupnya di reskuker.
Tutup reskuker dan setel tombol cooking. Tunggu sampai berpindah ke warm atau
air telah mendidih.
Setelah air mendidih, aduk terus
sembari tekan-tekan buah mangga yang belum hancur dengan spatula kayu. Aduk
terus menerus sampai kadar air menurun dan adonan menjadi kental. Jangan lupa
dicicipi untuk koreksi rasa. Proses pengadukan ini membutuhkan waktu sangat
lama teman, kira-kira dua sampai tiga jam bergantung pada banyaknya kadar air
pada proses awal. Bila adonan telah mengental atau menjadi selai, segera
matikan resuker. Selai bisa dipindah ke wadah lain yang lebih lebar atau tetap
di panci reskuker untuk didinginkan. Mudah bukan.
Langkah selanjutnya adalah membuat
roti bakar. Pada proses ini bahan yang digunakan adalah roti tawar (saya dulu
menggunakan tiga merk ini, lingga, borobudur atau prambanan yang berkulit ya
bukan yang putih karena lebih murah), selai buah, meses coklat untuk rasa coklat,
dan mentega (saya dulu konsisten menggunakan merk forvita yang murah). Alat
yang digunakan adalah sendok dan mesin pemanggang roti elektrik, mesin ini bisa
disubtitusi menggunakan teflon ya. Ambil dua helai roti, oles tipis-tipis
bagian dalam roti dan luar dengan mentega, kemudian beri selai/meses di salah
satu bagian dan tumpuk. Masukkan ke dalam mesin pemanggang. Tunggu 3-5 menit
jadi deh.
Bila anda menggunakan mesin pemanggang
roti, roti akan berbentuk kotak namun tengahnya terdapat bekas press mesin.
Bekas press inilah yang membagi roti menjadi dua bagian. Saya dulu menjualnya
hanya separuh bagian roti dengan harga jual Rp. 1000. Alat yang saya gunakan
untuk memotong roti bakarnya adalah gunting (sampai sekarang tahun 2018 gunting
itu masih ada padahal saya jualan pada semester ganjil tahun 2014, wkwkwk).
Untuk packingnya, saya membungkusnya dengan plastik ukuran ½ kg. Cara
packingnya, masukkan roti bakar ke dalam plastik, masukkan label merk roti,
Kemudian rekatkan plastik dengan cara membakarnya. Gunting beberapa cm dari
bekas bakaran. Nah, satu lembar plastik bisa digunakan untuk packing 2 biji
roti ya. Jangan lupa pastikan saat packing tidak terjadi kebocoran yang bisa
membuat semut masuk ke dalam plastik atau membuat roti jadi mudah basi.
Nah dari deskripsi diatas pasti ada
beberapa pertanyaan. Pertama mengapa saya menggunakan reskuker dan bukan
kompor. Saat itu memang di kos ada kompor, namun menggunakan gas butana.
Meskipun gas butana juga awet, tapi mahal karena isi ulang setiap kalengnya
seharga Rp. 4000 (tahun 2014). Karena di kos tidak perlu membayar listrik
tambahan untuk alat elektronik, maka kami memutuskan menggunakan reskuker karena
lebih murah (sekalian bayar sama kosannya wkwkwk). Kedua mengapa saya
menggunakan mesin pemanggang roti bukan teflon. Menggunakan teflon dengan
energi dari kompor (gas) memang lebih mudah ditemui. Namun saat itu, kami
memang ada dan tersedia alat tersebut. Hasil roti bakar bila menggunakan mesin
pemanggang dan teflon juga berbeda. Mesin pemanggang akan menghasilkan roti
bakar lebih kering dan pada saat masih hangat akan bertekstur sangat renyah,
sementara itu, menggunakan teflon lebih sulit mengontrol api kompor agar stabil
supaya tidak membuat telfon gosong, serta hasilnya lebih basah. Sehingga
menurut hemat saya, produk yang dihasilkan melalui mesin pemanggang akan lebih
awet dibandingkan dengan menggunakan teflon.
Dahulu setiap kali produksi, saya
dapat menghabiskan 2 bungkus roti. Kuantitas tersebut dapat habis untuk satu
atau dua hari. Dari sekali saya produksi, saya bisa mendapatkan omset Rp.
40.000 dan untung kira-kira Rp. 20.000 (baru sadar untung saya 50%, wkwkwk).
Untuk sekarang, saya kurang tau, karena harga bahan baku roti sendiri telah
naik, tahun 2014 satu bungkus roti tawar berkulit merek lingga, borobudur dan
prambanan adalah Rp. 7.000 –Rp. 8.000 dengan isi sekitar 19-20 lapis roti.
Tahun 2018, harga satu bungkus roti tersebut berkisar Rp. 8.000 – Rp. 9.500
dengan isi sekitar 18 lapis roti. Sehingga apabila anda berminat berjualan roti
bakar seperti saya, perhitungan harga jualnya bisa disesuaikan dengan kondisi
saat ini.
2.
Jualan
Gorengan
Pasti ada diantara kalian yang setiap
mengadakan event di kampus mencari dana dengan berjualan. Di kampus saya, UNS
Solo disebut dengan danus (dana usaha). Di jurusan dan fakultas, seringnya
danus berupa gorengan yang diambil dari suplier tukang buat roti dan jajanan
pasar yang banyak ditemukan di pasar-pasar. Dari situlah saya belanja untuk
berjualan gorengan. Disini saya hanya menjualkan dan mengambil untung Rp. 500 –
Rp. 700. Beberapa macam gorengan yang pernah saya jual adalah tahu ayam, tahu
bakso dan pisang coklat. Untuk tahu ayam dan pisang coklat saya mengambil dari
suplier di Pasar Panggung, sedangkan tahu bakso saya mengambil disebelahnya.
Untuk jenis gorengan dan jajanan pasar lainnya, bagi mahasiswa UNS saya
merekomendasikan kulakan di Pasar Jebres karena variannya lebih bermacam-macam.
Keuntungan dari jualan gorengan adalah tidak perlu repot-repot membuatnya
karena hanya menjualkan saja. Namun apabila tidak habis pada saat itu juga,
gorengan tidak dapat dijual kembali esoknya. Sehingga apabila berjualan
gorengan saya tidak stock terlalu banyak.
3.
Jualan
Pisang Coklat (Piscok)
Yang
ketiga, saya pernah jualan pisang coklat. Sesi jualan pisang coklat ini sangat
istimewa karena saya dan pacar saya (kami) memproduksi sendiri pisang coklat
ini. Bila sebelumnya hanya bertahan beberapa bulan, bisnis piscok ini mampu
bertahan sampai 1 semester sampai akhirnya kami harus berhenti karena suatu
persoalan yang diakibatkan oleh kebodohan kami (terutama saya), sehingga kami
merasa untuk membangun bisnis kembali, selain perlu modal niat, tekad,
kemampuan, koneksi dan kreativitas, juga memerlukan modal berupa kemapanan
finansial. Kemapanan finansial (istilah saya sendiri) itu bagaimana sih? Apakah
berarti harus punya modal besar untuk membuat suatu usaha, atau seperti apa.
Nah untuk sharing terkait jualan pisang coklat dan kemapanan finansial akan
saya bahas di artikel tersendiri pada postingan selanjutnya.
Nah
itulah ketiga macam produk yang pernah saya jual sembari kuliah. Saya merasakan
banyak manfaat dari proses tersebut, mulai dari bantuan finansial dari
keuntungan yang saya dapatkan, tes mental, kreativitas dan kemampuan untuk
melihat peluang. Dari proses tersebut saya juga banyak belajar. Sayangnya saya
tidak memiliki dokumentasi produk-produk tersebut karena sudah berganti laptop,
berganti hp dan berganti flashdisk. Nah apabila suatu hari nanti saya nemu
diantara file-file lama saya, saya akan perbaharui postingan ini dan
menguploadnya. Semoga postingan kali ini bermanfaat untuk pembaca semuanya.
Apabila ada kritik dan saran silahkan langsung alamatkan pada ayundav3@gmail.com. Kritik dan saran anda yang membangun
senantiasa saya nantikan dengan senang hati.